, , ,

Peringatan Dini BMKG: Luwu-Lutra Hujan Lebat, Potensi Meluas ke Palopo

oleh -895 Dilihat

Wawasan Palopo — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Kabupaten Luwu, Luwu Utara (Lutra), dan Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang diperkirakan akan terjadi selama beberapa hari ke depan, terutama pada malam hingga dini hari.

Dalam rilis resminya, BMKG Makassar, Selasa (4/11/2025), menyebutkan bahwa potensi hujan lebat dipicu oleh pergerakan massa udara basah dari Samudra Hindia bagian selatan Sulawesi yang bertemu dengan sirkulasi angin lokal di pesisir Teluk Bone. Kondisi ini diperkuat oleh konvergensi angin yang membentuk awan-awan hujan tebal di wilayah pegunungan Luwu Raya.

“Wilayah yang paling berpotensi terdampak adalah Kecamatan Malangke dan Sabbang Selatan di Luwu Utara, serta Kecamatan Bajo, Bua, dan Walenrang di Luwu. Sementara untuk Kota Palopo, hujan diperkirakan meluas pada sore hingga malam hari,” ujar Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Darmawan, S.T., M.Si.

Peringatan Banjir dan Longsor

BMKG juga memperingatkan adanya potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang, genangan air, dan tanah longsor, khususnya di wilayah yang memiliki topografi curam dan berada di dekat aliran sungai.

“Curah hujan tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan debit sungai serta memicu longsor di daerah perbukitan. Kami meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi yang tinggal di lereng dan bantaran sungai,” tegas Darmawan.

Menurutnya, curah hujan di wilayah Luwu Raya dalam tiga hari terakhir telah mencapai 150–200 milimeter per hari, yang termasuk dalam kategori hujan sangat lebat. Kondisi ini berpotensi bertambah jika sistem cuaca basah terus bertahan.

Pemerintah Daerah Siagakan Tim Tanggap Darurat

Menindaklanjuti peringatan BMKG, Pemerintah Kabupaten Luwu dan Luwu Utara segera menyiagakan tim tanggap bencana dari BPBD, Dinas Sosial, dan TNI–Polri untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.

Kepala BPBD Luwu, Abdul Rahman, mengatakan pihaknya sudah menyiapkan posko siaga banjir di beberapa titik rawan seperti Kecamatan Suli, Larompong, dan Bua. Selain itu, peralatan evakuasi seperti perahu karet dan kendaraan logistik juga telah disiagakan.

“Wilayah kami termasuk yang paling sering terdampak banjir bandang. Jadi, sejak awal November kami sudah aktifkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani, mengimbau warga agar tidak beraktivitas di sekitar sungai dan tebing yang rawan longsor. “Kami minta masyarakat waspada dan segera melapor ke pemerintah desa bila melihat tanda-tanda tanah bergerak atau air sungai meluap,” katanya.

BMKG
BMKG

Baca juga: Lima Guru Unggulan Sulsel Siap Bersaing di Tingkat Nasional AGP 2025

Dampak Mulai Terasa di Lapangan

Pantauan lapangan pada Selasa pagi menunjukkan beberapa wilayah di Kota Palopo seperti Amassangan dan Telluwanua mulai tergenang air setinggi 20–30 sentimeter akibat hujan sejak malam sebelumnya.

Sejumlah pengendara motor terpaksa berhenti karena jalanan licin dan tertutup air. “Kalau hujan begini, air cepat naik dari selokan. Biasanya karena sampah menumpuk di drainase,” ujar Andi, warga setempat.

Selain genangan air, laporan dari Kecamatan Rampi, Luwu Utara, juga menyebutkan adanya tanah longsor kecil yang menutup sebagian akses jalan menuju pemukiman warga. Petugas BPBD dibantu aparat TNI segera melakukan pembersihan material.

Imbauan Keselamatan dari BMKG

BMKG mengimbau agar masyarakat dan pemerintah daerah terus memantau informasi cuaca terkini melalui aplikasi Info BMKG atau kanal resmi media sosial BMKG.

“Jika hujan disertai petir, hindari berteduh di bawah pohon besar atau baliho, serta pastikan alat elektronik dicabut dari sambungan listrik untuk mencegah korsleting,” kata Darmawan.

Ia juga meminta nelayan dan pengguna jasa pelayaran untuk memperhatikan peringatan gelombang tinggi di perairan Teluk Bone yang bisa mencapai 2,5 meter, terutama bagi kapal kecil dan perahu nelayan tradisional.

Antisipasi Jangka Pendek dan Panjang

Pakar klimatologi dari Universitas Hasanuddin, Dr. Sri Wahyuni, menilai bahwa fenomena ini masih akan berlangsung hingga pertengahan November 2025, seiring transisi dari musim kemarau ke musim hujan.

“Daerah Luwu Raya memang berada di zona konvergensi yang sering menerima dampak awal musim hujan. Pemerintah perlu mempercepat normalisasi sungai dan pembersihan saluran drainase untuk mengurangi risiko genangan,” jelasnya.

Ia menambahkan, edukasi masyarakat mengenai kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem harus terus digencarkan agar tidak menimbulkan korban jiwa di kemudian hari.

Indosat

No More Posts Available.

No more pages to load.