Wawasan Palopo – Pemerintah Indonesia terus mencari solusi untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak. Salah satu langkah yang kini tengah dikembangkan adalah menjadikan tebu sebagai bahan baku etanol, yang nantinya akan dicampurkan dengan bahan bakar minyak (BBM). Program ini diharapkan bisa menjadi energi alternatif sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Diversifikasi Energi Berbasis Tebu
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan etanol berbasis tebu. Sebagai negara agraris dengan lahan tebu yang luas, bahan baku ini bisa diolah menjadi bioetanol dan dipadukan ke dalam BBM jenis bensin, mirip dengan kebijakan pencampuran biodiesel dengan solar.
“Kalau kita bisa memanfaatkan tebu untuk etanol, maka kebutuhan impor minyak akan berkurang signifikan. Ini juga sejalan dengan transisi energi menuju sumber energi yang lebih ramah lingkungan,” kata pejabat ESDM.
Belajar dari Program Biodiesel
Pemerintah ingin meniru keberhasilan program biodiesel yang telah diterapkan dengan mencampurkan minyak sawit (CPO) ke dalam solar. Program B30 bahkan berhasil menghemat triliunan rupiah devisa impor minyak.
Dengan dasar itu, program pencampuran etanol dari tebu ke dalam bensin diharapkan bisa memberikan efek serupa. Pemerintah menargetkan pencampuran minimal E5 hingga E10 (5–10 persen etanol ke dalam bensin) dalam beberapa tahun ke depan.

Baca juga: Viral Siswa SMP di Palopo Dikeroyok Teman di Sekolah, Polisi Turun Tangan
Peluang Bagi Petani Tebu
Selain mengurangi impor minyak, program ini juga diproyeksikan memberi nilai tambah bagi petani tebu. Selama ini tebu hanya dijual untuk kebutuhan gula, yang harganya kerap fluktuatif. Dengan adanya industri etanol, tebu akan memiliki pasar baru yang lebih stabil.
“Petani akan diuntungkan karena tebu tidak hanya untuk gula, tapi juga jadi energi. Jadi ada multiplier effect bagi perekonomian daerah,” ujar salah satu pengamat energi.
Tantangan Industri Etanol
Meski potensinya besar, pengembangan etanol berbasis tebu tidak lepas dari tantangan. Kapasitas produksi tebu di Indonesia masih terbatas, sementara kebutuhan energi nasional sangat besar. Selain itu, dibutuhkan investasi besar dalam pembangunan infrastruktur pabrik pengolahan bioetanol.
“Kalau mau serius, pemerintah perlu memastikan pasokan tebu tidak hanya untuk gula, tetapi juga cukup untuk etanol. Jangan sampai justru mengganggu ketahanan pangan,” jelas akademisi pertanian.
Menuju Ketahanan Energi Nasional
Pemerintah menegaskan, program pemanfaatan tebu untuk etanol bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga strategi jangka panjang dalam mencapai ketahanan energi nasional. Dengan mengurangi impor minyak, devisa negara bisa lebih terjaga, sekaligus mendukung target net zero emission pada 2060.
“Kita ingin Indonesia tidak lagi bergantung pada energi impor. Etanol dari tebu adalah salah satu jalan untuk mencapainya,” tegas perwakilan Kementerian ESDM.





