Wawasan Palopo — Sebuah insiden tidak mengenakkan terjadi antara sejumlah mahasiswa Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo dengan warga sekitar, pada Sabtu malam. Seorang mahasiswa dilaporkan menjadi korban pemukulan oleh seorang warga yang merasa terganggu akibat aktivitas mahasiswa di sekretariat yang dianggap terlalu berisik.
Peristiwa ini menimbulkan kehebohan di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitar, mengingat hubungan baik antara mahasiswa dan warga selama ini jarang diwarnai konflik.
Kronologi Kejadian: Teguran Berujung Emosi
Menurut keterangan beberapa saksi, insiden bermula ketika beberapa mahasiswa sedang berkumpul di sekretariat organisasi mahasiswa yang berada dekat area pemukiman warga. Aktivitas tersebut berlangsung hingga malam hari dan dinilai menimbulkan kebisingan.
Salah seorang warga kemudian datang untuk menegur. Namun, suasana dikabarkan memanas setelah terjadi adu mulut antara warga dan beberapa mahasiswa. Dalam situasi itu, seorang mahasiswa diduga menerima pukulan di bagian wajah.
“Awalnya hanya teguran soal suara musik dan obrolan yang keras. Tapi tiba-tiba saja warga itu emosi dan memukul salah satu anggota kami,” kata seorang mahasiswa yang enggan disebutkan namanya.
Mahasiswa Laporkan Kejadian ke Pihak Kampus dan Polisi
Usai kejadian, rekan-rekan korban segera membawa mahasiswa tersebut ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan. Meskipun tidak mengalami luka serius, korban disebut mengalami memar dan syok.
Pihak mahasiswa juga telah melaporkan insiden tersebut kepada birokrasi kampus serta mempertimbangkan langkah hukum. Beberapa pengurus organisasi mendesak agar kasus ini ditangani secara profesional demi keamanan mahasiswa di lingkungan kampus.
“Kami tidak ingin masalah ini melebar. Tapi tindakan pemukulan jelas sudah melewati batas,” ujar salah satu pengurus organisasi kemahasiswaan.

Baca juga: Pemkot Gelar Pasar Murah di Kantor Camat Wara Timur
Respons Warga: Terganggu Aktivitas Tengah Malam
Di sisi lain, warga yang berada di sekitar lokasi mengaku memang sering terganggu dengan aktivitas mahasiswa yang berlangsung hingga larut malam. Beberapa warga menyebut pertemuan mahasiswa kerap disertai suara gaduh yang mengganggu waktu istirahat.
“Kami sudah sering mengingatkan. Suara musik keras, orang ngobrol sampai tengah malam. Bukan sekali dua kali,” kata salah seorang warga.
Meski demikian, warga menegaskan bahwa tindakan kekerasan bukanlah solusi dan insiden pemukulan tersebut tetap harus diselesaikan secara bijaksana.
Pihak Kampus Minta Mahasiswa dan Warga Menahan Diri
Hingga berita ini diturunkan, pihak Universitas Andi Djemma Palopo tengah menghimpun informasi dari berbagai pihak. Kampus meminta semua pihak tetap menahan diri dan menghindari tindakan yang memperkeruh keadaan.
“Kasus ini sedang kami pelajari. Kami berharap baik mahasiswa maupun warga dapat menyampaikan keluhan dengan cara yang tepat tanpa kekerasan,” kata seorang pejabat kampus.
Pihak kampus juga berencana memfasilitasi mediasi antara kedua belah pihak.
Mediasi dan Penyelesaian Damai Jadi Harapan Bersama
Baik mahasiswa maupun perwakilan warga menyatakan terbuka untuk berdialog demi menghindari konflik serupa di masa mendatang. Warga berharap mahasiswa lebih memperhatikan etika bertetangga, sementara mahasiswa meminta warga mengedepankan komunikasi tanpa emosi.
Insiden ini diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi kedua pihak mengenai pentingnya menjaga toleransi dan kenyamanan bersama, terutama dalam lingkungan yang saling berdekatan.





